Hoax Ambulans Kosong Mondar-mandir untuk Takuti Warga, Begini Kondisi Sebenarnya

Raungan sirene ambulans semakin sering terdengar belakangan ini sejalan bersama dengan terjadinya lonjakan jumlah kasus COVID-19 dan tingginya angka kematian. Kabar palsu pun menyebar bahwa ambulans dirancang kosong mondar-mandir untuk menakut-nakuti warga. Bahkan informasi hoaks itu menyebabkan sebuah ambulans yang mengantarkan pasien suspek COVID-19 dirusak mengfungsikan helm oleh pemotor di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Polisi meringkus pelaku perusakan mobil ambulans yang sedang mempunyai pasien di Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelaku bernama Unyil menyebabkan kerusakan kaca mobil ambulans bersama dengan helm gara-gara termakan hoax medsos yang menyebut banyak mobil ambulans yang lantas lalang aslinya tidak mempunyai pasien.

Guna menepis hoaks, seorang relawan aksi Solidaritas Relawan Jogja (SONJO) Herry Febrianto melalui account Facebooknya menceritakan bagaimana sebuah mobil ambulans bekerja di sedang pandemi COVID-19.

“Sebetulnya itu reaksi aku gara-gara sehari aku sebelum akan menulis itu, di Jogja tersedia kasus ambulans, katanya dilempar mengfungsikan helm di daerah Piyungan, Bantul. Malamnya kita audiensi bersama dengan polisi segera ditangkap, paginya aku membuat artikel itu, bahwa ambulans kosong itu belum pasti tidak tersedia gunanya, justru ambulans kosong itu kadang dia buru-buru dia rela jemput orang yang kritis,” tanggap Herry sementara dihubungi detikcom, Jumat (16/7/2021).

Baca juga: Karoseri Ambulance
Bengkel Mobil Buka di Tengah PPKM Darurat, Buat Dukung Ambulans dan Kendaraan Logistik
Relawan SONJO berasal dari Kagama Intelek ini terjun segera menjadi relawan sebagai sopir ambulans, menjemput pasien, hingga pengangkut jenazah ke peristirahatan terakhir.

Ada dua poin yang cobalah diungkapkan melalui tulisan Facebooknya. Pertama, Herry menceritakan sementara ambulans kosong masuk ke perkampungan sembari menyalakan sirene bukan untuk menakuti warga. Sebab, terdapat relawan yang sementara ini ikut turun ke lapangan yang belum mengenal daerah. Menyalakan sirene menjadi tidak benar satu langkah sehingga sanggup bersama dengan cepat menemukan wilayah pasien.

“Saat ini langkah kita melayani orang yang sakit/menjemput jenazah di tempat tinggal adalah via WAG dan HT. Ketika info mengudara, umpama : ” mohon pertolongan kepada relawan terdekat, di daerah Baciro RT XX RW XX, belakang hotel xxx masuk ke timur, an Bp Tukiman. Positif Covid, mengalami pemburukan napas. Tolong dibawa ke RSUD untuk ditangani,” tulis Herry melalui unggahannya untuk dimuat atas izin yang bersangkutan, Jumat (16/7/2021).

“Lalu tersedia satu tim yang meluncur ke sana. Kami nggak mengetahui daerah, kita cuma mengetahui ancer-ancer. Perlu Anda ketahui pula bahwa sopir ambulans yang bertugas sementara ini BUKAN sopir ambulans asli. Mereka adalah relawan yang aslinya bisa saja dosen, karyawan, ustaz, mas-mas satgas, dsb.”

Baca juga:
Salut! Omesh Ubah Mercedes-Benz Vito Miliknya Jadi Ambulans Darurat
“Nah, sementara kita menjemput pasien yang kritis, ya mesti cepat. Maka sementara kita masuk gang, ya kita nyalakan sirene sehingga keluarga atau tetangga si sakit mendengar ambulans sudah mampir dan mengarahkan kru kita ke tempat tinggal ybs. Itu terlampau menghemat sementara dan bisa saja terlampau berarti bagi beliau yang bertarung nyawa bersama dengan Covid. Jadi ambulans kosong itu sedang MENCARI seseorang yang hendak diselamatkan nyawanya,” sambung Herry.

Poin yang kedua, Herry menjawab mengapa ambulans sementara ini lebih berasal dari dua unit dan jalur beriringan. Dalam keterangannya, dia menjelaskan, dalam mengatasi jenazah COVID-19 terbagi menjadi tiga tim; yakni pemulasaraan jenazah, tim pemakaman, dan tim untuk dekontaminasi lingkungan.

Baca juga:
Beda Jauh bersama dengan Warga +62, Cara Orang Jerman Beri Jalan ke Ambulans Dipuji
“Ketika tersedia panggilan untuk menyucikan/memandikan jenazah Covid di tempat tinggal warga, kita mempunyai tiga tim. Tim satu adalah tim pemulasaraan jenazah, yang mengkafani dan membersihkan jenazah. Tim kedua adalah tim pemakaman. Satu lagi tim dekontaminasi lingkungan yang bertugas menyemprotkan bahan sterilisasi di kira-kira tempat tinggal dan di pemakaman,” tulis Herry.

“Ketika jenazah sudah masuk peti dan siap dimakamkan, cuma seorang driver ambulans dan si jenazah saja yang boleh tersedia di ambulans. Kru lain tidak boleh masuk. Maka dia mesti umpek-umpekan di dalam ambulans kedua. Jadi dua ambulans itu BUKAN gagah-gagahan, namun memang kebutuhan,” sambung dia.

Jangan Termakan Hoaks Ambulan Kosong untuk Takuti Warga

Kapolres Bantul AKBP Ihsan meminta kepada masyarakat tidak menelan mentah-mentah segala tulisan di media sosial. Pasalnya, mobil ambulans menyalakan sirene gara-gara memang suasana darurat dan mesti cepat mengantar pasien ke layanan service kesehatan.

“Dengan kasus ini mengimbau kepada masyarakat isu tersebut tidak benar. Jadi isu ambulans muter-muter tanpa pasien itu tidak benar, dan itu terbukti dalam kasus ini,” ujar Ihsan sementara jumpa pers di Mapolres Bantul, Rabu (14/7/2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *